Langsung ke konten utama

Beberapa Fungsi al-Quran


Al-Quran berfungsi antara lain: Pertama, mengealurkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya):
Alif Lâm Râ. (Inilah) kitab yang Kami turunkan kepada kamu (Muhammad) agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji (TQS Ibrahim [14]: 1).
Keduua, sebagai pelajaran dan penerangan, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Al-Quran itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang jelas (TQS Ya Sin [36]: 69).
Ketiga, sebagai pembimbing yang lurus, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Segenap pujian milik Allah Yang telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok, sebagai bimbingan yang lurus (TQS al-Kahfi [18]: 1-2).
Keempat, sebagai peringatan, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Al-Quran itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam (TQS al-Qalam [68]: 52).
Kelima, sebagai pedoman hidup, petunjuk dan rahmat bagi manusia, sebagaimana firman-Nya yang artinya): Al-Quran ini adalah pedoman bagi manusia sekaligus petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini (TQS al-Jatsiyah [45]: 20).
Ketujuh, sebagai petunjuk dan kabar gembira sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Kami menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu untuk menjelaskan segala perkara, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslim (TQS an-Nahl [16]: 89).
Kedelapan, sebagai obat penyakit jiwa sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kamu pelajaran (al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi kaum Mukmin (TQS Yunus [10]: 57). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesombongan Hanya Milik Allah SWT

https://cintaquran.com/publik/2017/04/17/kesombongan-hanya-milik-allah-swt/ Rasulullah Muhammad saw. pernah bersabda bahwa Allah SWT telah berfirman, “ Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Karena itu, siapa saja yang merampas salah satunya dari-Ku, pasti Aku akan melemparkannya ke dalam api neraka. ”  (HR Abu Dawud dan Ibn Majah). Setidaknya ada dua  ‘ibrah  (pelajaran) yang dapat dipetik dari hadis qudsi di atas.  Pertama : terkait dengan keimanan, seorang Muslim harus meyakini bahwa Allahlah yang pantas memiliki sifat sombong ( al-kibr ) dan takabur ( at-takabbur ). Ini adalah berdasarkan klaim Allah sendiri di dalam al-Quran yang menyifati Diri-Nya dengan  Al-Mutakabbir , yang bisa bermakna ‘Yang Mahasombong’ atau ‘Yang Mahatakabur’ (Lihat: QS al-Hasyr [59]: 23). Menurut al-Qurthubi, ketika menafsirkan ayat ini, Allah SWT menamai Diri-Nya dengan  Al-Mutakabbir  karena Allah sendiri menganggungkan Diri-Nya sebagai...

Ikhlas Menentukan Keshalihan Amal

https://cintaquran.com/publik/2017/04/20/ikhlas-menentukan-keshalihan-amal/ Allah SWT berfirman (yang artinya):  Tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agama-Nya semata-mata, dengan lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang benar  (TQS al-Bayyinah [98]: 5). Allah SWT pun berfirman (yang artinya):  Sama sekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah hewan korban itu. Namun, yang akan sampai kepada Dia hanyalah ketakwaan kalian   (TQS al-Haj [22]: 37) Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad),  “Sekalipun kalian semua sembunyikan apa saja yang ada di dalam hati kalian ataupun kalian tampakkan, pasti itu diketahui juga oleh Allah.”  (TQS Ali-lmran [3]: 29) Rasulullah saw. pun bersabda,  “Sungguh amal perbuatan itu bergantung pada niatnya dan sungguh bagi setiap orang itu apa saja yang telah ia niatkan. Karena itu s...

Hati Hati Fitnah Dunia

Suatu ketika Rasulullah saw. pernah berkhutbah di hadapan orang-orang, “Wahai manusia, demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kalian kecuali saat Allah memberikan kekayaan dunia ini kepada kalian.” (HR Ibn Abu ad-Dunya’). Kita membayangkan, saat itu Rasulullah saw. berkhutbah di kalangan para Sahabat yang rata-rata hidup zuhud. Dunia (harta) mungkin ada dalam genggaman sebagian mereka, tetapi tidak menguasai kalbu-kalbu mereka. Fokus mereka tetaplah akhirat. Karena itulah kita mengenal Sahabat Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra. atau Abdurrahman bin Auf yang kaya raya. Namun, kita pun mengenal mereka sebagai para Sahabat terbaik dalam hal ibadah mereka, dakwah mereka, infak mereka termasuk jihad mereka di jalan Allah SWT. Lalu mengapa Rasulullah saw. sampai harus mengkhawatirkan mereka dengan fitnah dunia? Itu berarti, fitnah dunia sangatlah dahsyat. Bukankah sebagian Sahabat pernah tergelicir saat Perang Uhud, saat mereka berlari meninggalkan perint...