Langsung ke konten utama

Keadilan Islam

Panglima Qutaibah ibnu Muslim al-Bahili adalah seorang panglima besar yang telah menaklukkan negeri-negeri di Asia Tengah sampai perbatasan Cina. Di antara negeri-nengeri yang ditaklukkan tersebut adalah Samarkand. Sayang, negeri ini ditaklukkan oleh kaum Muslim tanpa memberikan pilihan terlebih dulu kepada penduduknya untuk memeluk Islam, berdamai atau berperang.
Setelah berlalu 20 tahun dari penaklukannya tersebut, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah. Penduduk Samarkand mendengar keadilan sang Khalifah. Mereka lalu mengirim delegasi kepada Khalifah di Damaskus untuk mengadukan perkara mereka.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz lalu mengirim surat kepada Gubernur Sulaiman bin Abi as-Sirry yang isinya: ”Penduduk Samarkand telah mengadukan kezaliman yang menimpa mereka dan serangan yang dilakukan Qutaibah yang telah mengusir mereka dari negerinya. Jika suratku ini sampai kepadamu, angkatlah seorang qadhi (hakim) yang akan mengadili perkara mereka ini. Jika dia memenangkan perkara mereka, kembalikanlah mereka ke negerinya sebagaimana dulu dan kalian kembali ke tempat kalian sebelum Qutaibah memenangkan perang.”
Gubernur memilihkan untuk mereka seorang qadhi. Sang Qadhi memutuskan dalam sidang tersebut bahwa seluruh orang Arab dan balatentara Islam yang ada di Samarkand harus keluar dari negeri itu dan mengembalikan seluruh perjanjian mereka. Semuanya harus dimulai dengan perjanjian yang baru atau kemenangan baru dengan sebuah peperangan yang terhormat.
Mendengar keputusan hakim tersebut, penduduk Samarkand malah berkata, ”Kami ridha dengan keadaan kami sekarang.”

Pada akhirnya penduduk Samarkand lebih memilih untuk tetap hidup di bawah naungan kaum Muslim setelah menyaksikan keadilan Islam (Lihat: Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, VIII/138-139). []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Sekali-kali Merendahkan Orang Lain

https://cintaquran.com/publik/2017/03/31/jangan-sekali-kali-merendahkan-orang-lain/ Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah berkata, “Janganlah seorang Muslim merendahkan Muslim lainnya karena sekecil-kecilnya seorang Muslim di sisi Allah adalah besar.” Terkait itu, Allah SWT tegas menyatakan (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain; boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan. Jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan (TQS al-Hujurat [49]: 11). Menurut Ibnu Katsir, di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Sifat meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul saw., “ Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia. ” (HR Muslim). Padahal sombong adalah sikap yang sangat tercela sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Tidak akan masuk surga...

Tiga Bentuk Pengabulan Doa

Berdoa tentu diperintahkan dan pasti akan Allah SWT kabulkan, sebagaimana firman-Nya: Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan (TQS Ghafir: 60). Namun demikian, doa yang pasti dikabulkan oleh Allah SWT mengharuskan sejumlah syarat. Di antara syarat yang terpenting adalah menghadirkan kalbu seraya sungguh-sungguh berharap kepada Allah SWT.  Ini sesuai dengan sabda Rasul saw., “Berdoalah kalian kepada Allah dan yakinlah kalian bahwa Allah akan mengabulkan doa kalian. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa yang berasal dari kalbu yang lalai dari mengingat-Nya.” (HR at-Tirmidzi). Seorang yang berdoa juga dilarang tergesa-gesa hingga kemudian meninggalkan doa saat merasa doanya tidak dikabulkan. Justru sikap demikian menjadi penghalang terkabulnya doa. Apalagi Allah SWT sesungguhnya amat senang mendengarkan rintihan orang yang berdoa.  Di dalam suatu hadis dinyatakan, “Jika seorang hamba berdoa kepada Allah SWT, sementara Allah menyukai dia, maka ...

Ikhlas Menentukan Keshalihan Amal

https://cintaquran.com/publik/2017/04/20/ikhlas-menentukan-keshalihan-amal/ Allah SWT berfirman (yang artinya):  Tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agama-Nya semata-mata, dengan lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang benar  (TQS al-Bayyinah [98]: 5). Allah SWT pun berfirman (yang artinya):  Sama sekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah hewan korban itu. Namun, yang akan sampai kepada Dia hanyalah ketakwaan kalian   (TQS al-Haj [22]: 37) Allah SWT juga berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad),  “Sekalipun kalian semua sembunyikan apa saja yang ada di dalam hati kalian ataupun kalian tampakkan, pasti itu diketahui juga oleh Allah.”  (TQS Ali-lmran [3]: 29) Rasulullah saw. pun bersabda,  “Sungguh amal perbuatan itu bergantung pada niatnya dan sungguh bagi setiap orang itu apa saja yang telah ia niatkan. Karena itu s...