Manusia memang makhluk berakal.
Pernyataan di atas hanya berarti bahwa dengan akalnya manusia memiliki potensi
untuk berpikir. Apakah manusia itu sendiri berpikir atau tidak—artinya dia menggunakan
akal atau tidak—bergantung pada pilihan manusia itu sendiri. Saat manusia mau
berpikir atau menggunakan akalnya, mereka berpotensi untuk menjadi baik.
Sebaliknya, saat manusia enggan menggunakan akalnya (tidak mau berpikir),
mereka berpotensi menjadi buruk, bahkan lebih buruk daripada binatang ternak.
Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya (yang artinya):
Sungguh Kami menjadikan untuk (isi Neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan
manusia. Mereka mempunyai kalbu (akal), tetapi tidak digunakan untuk memahami/memikirakan
(ayat-ayat Allah)...Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai (TQS al-A’raf [7]: 179).
Pada suatu hari, saat Khalifah Umar ra. sedang makan roti, datanglah Utbah bin Abi Farqad ra. Utbah pun beliau persilakan masuk sekaligus beliau ajak untuk ikut makan roti bersama. Roti itu ternyata terlalu keras sehingga Uthbah tampak agak kesulitan memakannya. “Andai saja engkau membeli makanan dari tepung yang empuk,” kata Uthbah. Khalifah Umar malah bertanya, “Apakah setiap rakyatku mampu membeli tepung dengan kualitas yang baik?” “Tentu tidak,” jawab Uthbah ra. “Kalau begitu, engkau telah menyuruhku untuk menghabiskan seluruh kenikmatan hidup di dunia ini,” tegas Umar. Itulah Khalifah Umar ra., penguasa Muslim yang wilayah kekuasaannya saat itu adalah seluruh jazirah Arab, Timur Tengah, bahkan sebagian Afrika. Kebesaran kekuasan beliau tentu jauh lebih besar daripada kekuasaan para raja Arab saat ini. Namun, semua itu ternyata tidak otomatis menjadikan beliau kaya-raya serta bergelimang harta dan kemewahan, sebagaimana para penguasa Arab saat ini; juga sebagaimana penguas...

Komentar
Posting Komentar