Manusia memang makhluk berakal.
Pernyataan di atas hanya berarti bahwa dengan akalnya manusia memiliki potensi
untuk berpikir. Apakah manusia itu sendiri berpikir atau tidak—artinya dia menggunakan
akal atau tidak—bergantung pada pilihan manusia itu sendiri. Saat manusia mau
berpikir atau menggunakan akalnya, mereka berpotensi untuk menjadi baik.
Sebaliknya, saat manusia enggan menggunakan akalnya (tidak mau berpikir),
mereka berpotensi menjadi buruk, bahkan lebih buruk daripada binatang ternak.
Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya (yang artinya):
Sungguh Kami menjadikan untuk (isi Neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan
manusia. Mereka mempunyai kalbu (akal), tetapi tidak digunakan untuk memahami/memikirakan
(ayat-ayat Allah)...Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai (TQS al-A’raf [7]: 179).
https://cintaquran.com/publik/2017/03/31/jangan-sekali-kali-merendahkan-orang-lain/ Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah berkata, “Janganlah seorang Muslim merendahkan Muslim lainnya karena sekecil-kecilnya seorang Muslim di sisi Allah adalah besar.” Terkait itu, Allah SWT tegas menyatakan (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain; boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan. Jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan (TQS al-Hujurat [49]: 11). Menurut Ibnu Katsir, di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Sifat meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul saw., “ Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia. ” (HR Muslim). Padahal sombong adalah sikap yang sangat tercela sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Tidak akan masuk surga...

Komentar
Posting Komentar