Langsung ke konten utama

Postingan

Dua Nikmat yang Sering Terlupakan

Pernahkah kita bertanya, kapan kita benar-benar bisa merasakan nikmat sehat? Betul. Kita acapkali benar-benar bisa merasakan nikmat sehat justru saat kita sakit. Pernahkah kita pun bertanya, kapan kita bisa benar-benar merasakan nikmatnya memiliki waktu luang? Betul juga. Kita acapkali bisa merasakan nikmatnya memiliki waktu luang justru saat kita merasa terlalu disibukkan oleh banyak hal, misalnya pekerjaan. Karena itu benar sabda Rasulullah saw., ”Ada dua kenikmatan yang sering membuat banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari). Terkait sabda Rasul saw. di atas, Ibnul Jauzi pernah berkata, ”Kadang seseorang berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Kadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi sakit. Jika terkumpul pada manusia nikmat sehat dan waktu luang, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan ketaatan. Itulah manusia yang telah terperdaya.” Ibnul Jauz...

Islam Satu-satunya Jalan Lurus

Paling tidak 17 kali sehari—di dalam shalat—kita memohon agar Allah SWT menunjuki kita jalan yang lurus. Itulah Islam. Selain Islam adalah jalan yang  sesat (QS al-An’am [6]: 153). Karena itu saat Anda tidak mengamalkan al-Quran, tidak mengikuti syariahnya, Anda sesungguhnya sedang berjalan di jalan yang bengkok. Saat demikian, permohonan Anda kepada Allah agar Dia menunjuki jalan yang lurus adalah permohonan dusta dan penuh kepura-puraan. Jalan lurus itu adalah jalan yang dapat mengantarkan pada kenikmatan. Nikmat itu banyak jumlahnya: nikmat hidup, nikmat menjadi makhluk termulia, nikmat akal, nikmat sehat, nikmat harta, nikmat memiliki anak-istri, dsb. Meski wajib kita syukuri, semua nikmat itu sesungguhnya semu. Nikmat hakiki hanya ada di  surga nan abadi. Itulah nikmat yang Allah SWT berikan kepada para nabi, para shiddiqîn , para syuhada dan orang-orang shalih. Itulah yang sejatinya sering kita mohonkan kepada Allah SWT dalam shalat-shalat kita. Karena itu seora...

Pantaskah kita Sombong?

Seorang Muslim yang baik tentu tidak akan pernah bersikap angkuh atau sombong. Ia akan selalu menyadari, bahwa apa yang ada pada dirinya atau apa yang ia ‘punya’, hakikatnya bukan miliknya, tetapi milik Allah SWT yang kebetulan Dia titipkan kepada dirinya. Karena itu tentu berbahagialah orang yang memiliki kesadaran semacam ini, sebagaimana dinyatakan oleh Hasan al-Bashri, "Semoga Allah merahmati orang-orang menjadikan dunia ini sebagai titipan. Mereka menunaikan amanah itu kepada yang mempercayakannya dan mereka pun pergi tanpa beban." (Al-Ghazali,  Ihyâ' ‘Ulûm ad-Dîn , III/ 221). Namun demikian, sebagai manusia, kita adakalanya khilaf dan lupa; sesekali mungkin pernah muncul dalam diri kita sikap sombong dan angkuh. Agar perasaan demikian tidak muncul lagi, maka penting bagi kita untuk merenungkan nasihat Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi  rahimahulLâh  berikut: "Wahai manusia yang sombong. Kamu adalah makhluk yang lemah, remeh, tidak berdaya dan terkepung...

Keadilan Islam

Panglima Qutaibah ibnu Muslim al-Bahili adalah seorang panglima besar yang telah menaklukkan negeri-negeri di Asia Tengah sampai perbatasan Cina. Di antara negeri-nengeri yang ditaklukkan tersebut adalah Samarkand. Sayang, negeri ini ditaklukkan oleh kaum Muslim tanpa memberikan pilihan terlebih dulu kepada penduduknya untuk memeluk Islam, berdamai atau berperang. Setelah berlalu 20 tahun dari penaklukannya tersebut, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah. Penduduk Samarkand mendengar keadilan sang Khalifah. Mereka lalu mengirim delegasi kepada Khalifah di Damaskus untuk mengadukan perkara mereka. Khalifah Umar bin Abdul Aziz lalu mengirim surat kepada Gubernur Sulaiman bin Abi as-Sirry yang isinya: ”Penduduk Samarkand telah mengadukan kezaliman yang menimpa mereka dan serangan yang dilakukan Qutaibah yang telah mengusir mereka dari negerinya. Jika suratku ini sampai kepadamu, angkatlah seorang qadhi (hakim) yang akan mengadili perkara mereka ini. Jika dia memenangkan pe...

Nikmat Sehat dan Waktu Luang

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu-nunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan pula masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR al-Bukhari). Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari). Terkait hadis Rasul saw. di atas, Ibnu al-Jauzi berkata, ”Kadang-kadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Kadang-kadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi sakit. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).” Ibnu al-Jauzi juga berkata, “Dunia adalah ladang beramal untuk menuai paneh di akhirat kelak. Dun...

Menangis Karena Takkut Kepada Allah SWT

Menangis karena Takut kepada Allah SWT Banyak manusia yang mudah bersedih dan menangis saat kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi dari dirinya; entah kehilangan harta, anggota keluarga, atau bahkan sekadar kehilangan kesempatan yang ia anggap menguntungkan. Sebaliknya, banyak pula manusia yang begitu sulit menangis karena banyaknya dosa-dosanya dan kurangnya amal ibadahnya. Mereka jarang menangis karena dorongan rasa takutnya kepada Allah SWT. Padahal, kata Imam Imam Hasan al-Bashri rahimahulLâh, “Andai seseorang menangis pada sekumpulan manusia karena takut kepada Allah, niscaya mereka dirahmati semuanya.” Dikatakan juga, “Tidak ada satu amalan pun kecuali ada timbangannya yang jelas kecuali menangis karena takut kepada Allah. Allah tidak membatasi sedikit pun nilai dari setiap tetes air matanya.” Hasan al-Bashri juga berkata, “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaannya.” (Hasan al-Bashri, Al-Mawâ’izh, hlm. 109). ...

Meneladani Generasi Terbaik

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Generasi terbaik adalah generasiku (para sahabat), lalu generasi berikutnya ( tâbi’in ), kemudian generasi berikutnya ( tâbi’ at-tâbi’în ).” (HR al-Bukhari dan Muslim). Hadis di atas adalah pernyataan tegas dari Rasulullah saw. bahwa generasi sahabat, tâbi’în dan tâbi’în adalah generasi terbaik dari umat ini. Kepada merekalah generasi hari ini layak mencontoh dan meneladani. Itu pula yang ditegaskan oleh 'Abdullah bin Mas'ud ra., "Siapa saja di antara kalian  yang ingin meneladani manusia, hendaklah meneladani para sahabat Rasulullah saw. Sungguh mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Suatu kaum yang telah Allah SWT pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsar (jejak-jejak keteladanan) mereka karena mereka berada di jalan yang lurus." (HR Ibn...