Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Hati Hati Fitnah Dunia

Suatu ketika Rasulullah saw. pernah berkhutbah di hadapan orang-orang, “Wahai manusia, demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kalian kecuali saat Allah memberikan kekayaan dunia ini kepada kalian.” (HR Ibn Abu ad-Dunya’). Kita membayangkan, saat itu Rasulullah saw. berkhutbah di kalangan para Sahabat yang rata-rata hidup zuhud. Dunia (harta) mungkin ada dalam genggaman sebagian mereka, tetapi tidak menguasai kalbu-kalbu mereka. Fokus mereka tetaplah akhirat. Karena itulah kita mengenal Sahabat Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra. atau Abdurrahman bin Auf yang kaya raya. Namun, kita pun mengenal mereka sebagai para Sahabat terbaik dalam hal ibadah mereka, dakwah mereka, infak mereka termasuk jihad mereka di jalan Allah SWT. Lalu mengapa Rasulullah saw. sampai harus mengkhawatirkan mereka dengan fitnah dunia? Itu berarti, fitnah dunia sangatlah dahsyat. Bukankah sebagian Sahabat pernah tergelicir saat Perang Uhud, saat mereka berlari meninggalkan perint...

Harta Haram tak Akan Pernah Mengenyangkan

Pernahkah kita mendengar orang kaya dari hasil korupsi, tetapi ia tidak pernah berhenti korupsi?  Pernah kita melihat orang kaya dari hasil menerima suap tetapi ia tidak pernah berhenti untuk terus menerima suap?  Pernahkah kita menyaksikan wanita yang berkecukupan dengan “menjajakan tubuhnya”, tetapi tetap tidak berhenti dari profesinya untuk terus “menjajakan tubuhnya”?  Pernahkah kita melihat orang-orang yang terbiasa makan harta riba dan terus-menerus bergelut dengan harta riba meski mungkin ia sudah berkecukupan? Begitulah harta haram, betapun pun banyaknya, tak pernah bisa mengenyangkan manusia, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,  “Siapa saja yang mengusahakan harta halal akan diberkahi. Siapa saja yang mengusahakan harta haram serupa dengan orang yang banyak makan tetapi tidak pernah kenyang.”  (HR Ibn Abi ad-Dunya’).  Bahkan, jangankan harta haram, harta halal pun—bagi orang yang cinta dunia—juga tidak akan bisa membuat dirinya puas. ...

Muallaf Cinta Islam | 25 Desember 2016

Masya Allah, pesatnya perkembangan muallaf di Indonesia. Sebanyak 1.078 orang/tahun memeluk agama Islam (sensus kementrian agama, 2013). Namun tahukah Anda, ternyata begitu minimnya kepedulian dan pembinaan dari pemerintah terhadap para Muallaf. Sehingga tidak sedikit diantara Muallaf yang kembali kepada agama lama mereka. Event Muallaf Cinta Islam, sebuah forum yang di dedikasikan untuk membangun kepedulian dan pembinaan untuk para Muallaf di Indonesia. Menghadirkan muallaf dan tokoh inspiratif nasional; - Umi Irena Handono (Mantan Biarawati) - Ust Felix Siauw (Muallaf,Dai Nasional) - Ust Fatih Karim (CEO Cinta Quran) - Ust Hafidz Abdurrahman (Pimpinan Ponpes Syaroful Haramain) - Asep Supriatna (Life performace trainer) đź—“ Minggu, 25 Desember 2016 ⏰ Pukul 07.30 - 12.00 WIB 🏠 Ballroom Prajurit Balai Sudirman-Jakarta. HTM Reg : Rp 100.000,- (snack box) VIP : Rp 200.000,- (snack box, lunchbox, voucher umroh senilai 1 juta rupiah, seminar kit) Ters...

Tiga Bentuk Pengabulan Doa

Berdoa tentu diperintahkan dan pasti akan Allah SWT kabulkan, sebagaimana firman-Nya: Berdoalah kalian kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan (TQS Ghafir: 60). Namun demikian, doa yang pasti dikabulkan oleh Allah SWT mengharuskan sejumlah syarat. Di antara syarat yang terpenting adalah menghadirkan kalbu seraya sungguh-sungguh berharap kepada Allah SWT.  Ini sesuai dengan sabda Rasul saw., “Berdoalah kalian kepada Allah dan yakinlah kalian bahwa Allah akan mengabulkan doa kalian. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa yang berasal dari kalbu yang lalai dari mengingat-Nya.” (HR at-Tirmidzi). Seorang yang berdoa juga dilarang tergesa-gesa hingga kemudian meninggalkan doa saat merasa doanya tidak dikabulkan. Justru sikap demikian menjadi penghalang terkabulnya doa. Apalagi Allah SWT sesungguhnya amat senang mendengarkan rintihan orang yang berdoa.  Di dalam suatu hadis dinyatakan, “Jika seorang hamba berdoa kepada Allah SWT, sementara Allah menyukai dia, maka ...

Istighfar dan Tobat

Annas ra. menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasul saw. bersabda,   “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, andai kalian berdosa hingga dosa-dosa kalian memenuhi langit dan bumi, lalu kalian memohon ampunan kepada Allah, pasti Dia akan mengampuni kalian.”   (HR Ahmad). Hadis di atas terkait dengan istighfar, yakni memohon ampunan kepada Allah SWT.  Istighfar  bermakna memohon ampunan dengan menjaga diri dari keburukan dosa-dosa.  Istighfar  tentu diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:  Ber-istighfar-lah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang   (TQS al-Muzammil: 20). Allah SWT juga berfirman:  Istighfar  tentu harus dibarengi dengan tobat. Banyak sekali nas al-Quran maupun al-Hadis yang mengaitkan  istighfar  dengan tobat, di antaranya dinyatakan dalam firman-Nya:  Ber-istighfar-lah kalian dan bertobatlah kalian kepada-Nya  (TQS Hud: 3). Bisa dik...